Langkah-langkah mencegah penyakit di Indonesia

Advertisement
Langkah-langkah lengkap dan menyeluruh dalam mencegah penyakit di Indonesia

Nusa Tenggara Timur, Juni 2012 - Di desa Loli, provinsi Nusa Tenggara Timur, Sua Augustinus Hauloni merasa jauh lebih senang akan kondisi kesehatan keluarganya dibanding beberapa tahun yang lalu.

"Dulu kacau," kenangnya. "Orang-orang sering jatuh sakit, terutama di musim hujan. Saya sendiri, istri saya, dan anak-anak semua pernah kena malaria tetapi dalam tahun-tahun terakhir ini sudah membaik. Kondisi kami sekarang jauh lebih bagus, tidak seperti dulu.. gampang sekali kena penyakit. Besar perbedaannya."


Dalam sebuah provinsi dimana penyakit diare mempengaruhi lebih dari satu dalam sepuluh anak per tahun, dan yang memiliki cakupan sanitasi terburuk di Indonesia serta nomor empat dalam angka kematian balita, mungkin optimisme tersebut ada dasarnya. Data ini bertentangan dengan pandangan umum bahwa Indonesia, sebagai bangsa yang telah selamat dari krisis keuangan global, kini menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang padat, dengan populasi kelas menengah yang makmur dan terus bertambah.

Seperti komunitas-komunitas kecil lainnya di daerah pedesaan Indonesia, penduduk desa Loli sendirilah yang mengambil inisiatif dalam meningkatkan kesehatan keluarga mereka.

Lima pilar perbaikan kesehatan

Hauloni adalah seorang relawan lokal yang mempromosikan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Fokus dari program ini adalah memastikan penerapan lima pilar kebersihan lingkungan; tidak buang air di tempat terbuka, mencuci tangan pada saat-saat penting seperti sebelum menyiapkan makanan, pengolahan air minum, serta mengelola sampah dan air limbah rumah dengan benar.

"Sejak saya kecil, malaria dan diare itu sering terjadi," ujar Hauloni yang berusia 30 tahun itu. "Orang-orang tidak menjaga kebersihan lingkungan umum, ataupun mengelola sampah dan limbah lainnya. Itu yang membuat orang rentan penyakit."

Loli bukanlah komunitas kaya - hampir tiga perempat dari penduduknya terhitung miskin. Biaya rawat sakit merupakan beban yang tidak bisa dipikul oleh sebagian besar penduduknya. Menurut Hauloni, perawatan, transportasi ke rumah sakit dan obat-obatan dapat menghabiskan biaya Rp 500.000 (US$50) – harga yang di luar jangkauan banyak keluarga.

Perbaikan sanitasi turut bermanfaat dalam atasi kemiskinan pada tingkat provinsi. Di desa tetangga bernama Neke, warga setempat bekerja memproduksi kakus melalui program yang didukung pemerintah daerah dan UNICEF. Kakus-kakus ini dijual ke komunitas sekitarnya, termasuk desa Loli. Bahkan, pimpinan daerah mereka telah merancang sistem kredit cicilan, agar keluarga yang berpendapatan paling rendah pun dapat meningkatkan kondisi sanitasi mereka.

Generasi baru duta-duta kesehatan

Warga-warga termuda pun terlibat dalam menanggulangi penyakit; di SD Gereja Masehi Injili Timor, KepSek. Lory Aploegi adalah advokat terbesar dalam mendidik murid-muridnya tentang betapa pentingnya kebersihan itu.

"Ketika saya baru mulai di sekolah ini, saya menginstruksikan mereka untuk memasang botol plastik yang dilubangi supaya anak-anak bisa mencuci tangan mereka", jelasnya. "Kami mengajar anak-anak untuk mencuci tangan sebelum makan, menyikat gigi, menjaga kuku supaya pendek dan bersih, dan memakai pakaian dan kaus kaki yang benar." "Mengajar anak-anak cara untuk hidup sehat dan bersih itu penting. Kalau jadi kebiasaan .. mereka akan melakukannya baik di rumah maupun di masyarakat."

Pelajaran ini terbukti ampuh. Anugrah, umur sebelas tahun, sudah mengerti intinya. "Mencuci tangan itu penting, supaya bakteri tidak menempel karena itu bisa membuat kita sakit."
Dia pun tak pernah sungkan dalam mengajarkan apa yang benar kepada orang lain.
"Suatu hari saya mengajar adik saya, Aldo, bagaimana cara mencuci tangan dengan benar. Saya bilang ke dia caranya itu salah, harusnya dengan cara yang benar."


Langkah-langkah Pencegahan paralel



Tidak hanya satu, tapi ada beberapa macam respon yang sangat dibutuhkan dalam memerangi penyebab-penyebab penyakit di provinsi yang rentan seperti ini.

"Kita harus melihat ini dari beberapa sisi," ujar ketua program kelangsungan hidup anak dan program pembangunan dari UNICEF Indonesia, Dr. Robin Nandy. "Meskipun perbaikan sanitasi atau mengajarkan anak-anak untuk mencuci tangan sangat penting, dengan sendirinya itu tidak cukup. Kondisi seperti diare dan pneumonia tidak hanya tergantung satu hal - mereka terkait dengan gizi buruk, yang berarti tingkat pengetahuan para ibu tentang menyusui eksklusif dan pemberian pakan yang tepat masih rendah dan perlu diatasi.

Anak-anak lebih rentan terhadap penyakit jika ditularkan oleh orang lain - artinya kita harus menargetkan anak yang belum mendapatkan semua vaksinasi yang mereka butuhkan. Kita harus meningkatkan respon terhadap penyakit sebelum itu terjadi, melalui peningkatan pengetahuan ibu dan masyarakat mengenai penyakit dan risikonya sehingga mereka bisa mencari pengobatan secara tepat waktu, dan dengan melakukan diagnosis dan pengobatan yang tepat dengan berinvestasi dalam keterampilan dan kemampuan petugas kesehatan di sarana-sarana kesehatan dan komunitas."

Meskipun ada banyak langkah yang bisa diambil, mereka semua terhitung mudah untuk dilakukan. Menyusui tidak perlu biaya. Ada banyak pasokan tenaga kesehatan yang bahkan sampai mendirikan klinik keliling untuk mencapai keluarga yang paling rentan. Sampai tokoh-tokoh masyarakat, guru-guru dan sukarelawan pun terbukti sangat terlibat.

Dengan seperempat dari seluruh kematian balita di Indonesia disebabkan oleh diare, semua unsur harus disatukan untuk menyelamatkan nyawa apabila Indonesia mau mempertahankan kemajuan yang sudah dicapai dalam sepuluh tahun terakhir. (Source: unicef.org/indonesia/ img:unicef.org/indonesia/)


Advertisement
loading...

0 komentar:

Posting Komentar