Peduli Kesehatan Masyarakat Pelosok Papua

Advertisement

Untuk mencapai Desa Bahamyenti di Propinsi Papua Barat tidaklah mudah. Dari ibu kota propinsi, Manokwari, kita harus menempuh perjalanan 2 jam dengan kondisi jalanan berbatu-batu dan menanjak melewati pegunungan yang hanya bisa dilakukan dengan kendaraan 4x4. Setelah itu kita harus menyebrang 2 sungai besar tanpa jembatan yang tidak mungkin dilakukan bila musim hujan.

© UNICEF/2011/Gerber

Menyeberang sungai kecil di perjalanan menuju Desa Bahamyenti, Papua Barat.


Tapi ini belum seberapa. Jalanan berbatu berakhir di Desa Amber, dilanjutkan dengan jalan kaki selama 2 jam, mendaki bukit hutan yang licin, berlumpur dan melewati beberapa sungai kecil, semuanya dilalui tanpa jembatan. Setelah melewati hutan, barulah rumah-rumah Desa Bahamyenti terlihat. Karena harus menempuh perjalanan panjang dan melelahkan untuk mencapai Desa Bahamyenti, desa kecil yang hanya terdiri dari 5 rumah tangga ini, jarang sekali didatangi pengunjung luar. Untuk itu setiap pengunjung merupakan tamu istimewa. Tidak terkecuali hari ini. Kelompok yang terdiri dari 6 orang, pria dan wanita, berkunjung ke desa ini. Mereka memperkenalkan diri sebagai tim survei dari BPS, Badan Pusat Statistik. Pak Tajudin, pemimpin kelompok, menjelaskan kepada Seketaris Desa, Pak Marinus Mandacan, bahwa Desa Bahamyenti merupakan salah satu desa yang menjadi sampel survei penting, yang disebut MICS, Multiple Indicator Cluster Survey, hasil kerjasama UNICEF dan BPS.  Kegiatan ini meliputi Provinsi Papua dan Papua Barat.

Sejak pertengahan tahun 90-an, MICS-yang didukung UNICEF- telah dilakukan di lebih 100 negara untuk menghasilkan data-data yang bisa diandalkan dan juga bisa diperbandingkan dengan negara-negara lain. Data-data ini untuk melihat indikator-indikator di bidang kesehatan, pendidikan, perlindungan anak dan HIV/AIDS, yang sangat berguna saat pengambilan keputusan untuk menetapkan kebijakan, dan pelaksanaan program, serta untuk disampaikan kepada masyarakat mengenai situasi anak dan perempuan.

Data-data MICS dikumpulkan melalui proses wawancara tatap muka kepada perwakilan setiap rumah tangga, untuk mendapatkan informasi tentang situasi anak dan perempuan. “Proses MICS menghasilkan data-data penting yang membantu perencanaan bagi anak-anak dan perempuan,“ kata Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia, Ibu Angela Kearney.

“Kebijakan-kebijakan, keputusan-keputusan dan alokasi dana serta sumber daya lainnya akan lebih kuat bila didasari oleh data-data yang dapat diandalkan, dalam hal ini data-data yang dihasilkan dari MICS.” “Kami ingin mewawancara penduduk Desa Bahamyenti untuk mendata kondisi kehidupan mereka, perilaku dan kebutuhan mereka. Berdasarkan data-data ini, pemerintah bisa membuat perencanaan lebih baik dalam upaya meningkatkan kesejahteraan warga Papua dan Papua Bara, terutama anak-anak dan perempuan,” Pak Tajudin menjelaskan ke Pak Marinus. Setelah puas mendengar penjelasan Pak Tajudin, Pak Marinus merasa bangga desanya terpilih menjadi sampel survei MICS dan mengijinkan Pak tim survei untuk mulai bekerja. Keenam petugas segera mulai mengumpulkan informasi jumlah rumah tangga dan anggotanya. Semuanya mencakup penduduk pria dan wanita, usia 15-49 tahun serta anak-anak di bawah usia 5 tahun. Untuk anak-anak yang masih kecil dan tidak dapat menjawab pertanyaan survei maka para ibu atau pengasuh lainnya yang menjawab.

Beberapa pertanyaan survei juga mencakup hal-hal yang sensitif serperti perilaku hubungan seksual, maka demi kenyamanan dan kelancaran survei, penduduk wanita hanya diwawancara oleh petugas wanita dan penduduk pria hanya diwawancara oleh petugas pria. Pak Tajudin mulai membagi tugas dan wawancara dimulai. Jika ada keluarga yang tidak bersedia menjawab suatu pertanyaan, maka Pak Tajudin akan datang untuk meyakinkan mereka.

Setelah wawancara selesai, Pak Taufiquirrahman, yang bertugas sebagai editor, memeriksa kembali semua data untuk memastikan semua data terisi dengan benar. Sekilas, Desa Bahamyenti terlihat ideal sebagai tempat tinggal karena berlokasi di balik gunung yang dipenuhi tumbuh-tumbuhan. Rumah-rumah kayu kecil dengan atap seng dan pagar depan yang dipenuhi tanaman seperti buah-buahan, dan juga terlihat kandang babi. Anjing-anjing yang berkeliaran juga ramah menyambut pengunjung, dan terlihat ada sebuah gereja di sana. Tapi, seperti yang juga disampaikan oleh petugas survei, kehidupan di sini tidak seindah yang terlihat. Ibu Lodiana Mandacan, istri Pak Marinus, menjelaskan: “Untuk memenuhi kebutuhan air, kita harus ambil dari mata air, 10 menit dari sini. Bila tidak hujan, mata air jadi kering, jadi kita harus berjalan mendaki ke sungai mengambil air.”

Temannya, Ibu Rusiana Wonggor menambahkan: “Kita juga tidak punya toilet. Orang-orang di sini pergi ke hutan saja. Di sini juga tidak ada sekolah untuk anak-anak. Sekolah terdekat dari sini adalah SD Mokwam, dua jam jalan kaki. Jadi jika anak-anak di sini mau sekolah, mereka harus tinggal di rumah saudara di Mokwam, dan pulang saat akhir pekan.” Selain itu, fasilitas kesehatan juga tidak ada.

“Ibu saya mengajarkan cara membantu ibu yang melahirkan, atau para ibu harus berjalan kaki dua jam untuk pergi k puskesmas terdekat. Tidak ada petugas kesehatan yang datang ke sini.” Masalah jarak merupakan alasan mengapa sebagian besar anak-anak di Bahamyenti belum diimunisasi. Contohnya Reno, usia lima tahun, salah seorang cucu dari Ibu Lodiana dan Pak Marinus baru mendapatkan imunisasi polio satu kali, dan kakaknya Eni, tujuh tahun, belum pernah diimunisasi sama sekali. MICS tentu saja tidak bisa membuat perubahan dalam sekejap. Namun dengan MICS, situasi dan kebutuhan yang diperlukan oleh penduduk wilayah terpencil di Papua dan Papua Barat, dapat didata, sebagai awal upaya meningkatkan kesejahteraan mereka. [Sumber]

Advertisement
loading...

0 komentar:

Posting Komentar